Selasa, 29 November 2011

Menyingkap Paradigma Sosok Sejati Orang-Orang yang Tulus




Ketika pergerakan kehidupan diwarnai oleh berbagai macam sifat dan tingkah laku seseorang dalam berdinamika menyusuri proses kehidupan, ketika setiap paradigma, prinsip hidup, naluri, sipat dan sikap diinterpretasikan dalam berbagai bentuk pergerakan baik pergerakan perjuangan, kemanusiaan, kerohanian,  maupun pengetahuan, maka saat itu pula setiap orang akan menyusuri pengamatan dalam proses pencarian kebutuhan akan teman sejati seperjuangan dan saat itulah teman kepercayaan dan teman yang tulus dibutuhkan.
Dalam lipatan pemikiran, telah menjadi paradigma umum bahwa setiap manusia membutuhkan manusia yang lain sebagai tampat curahan hati, sebagai tempat menaruhkan kepercayaan, sebagai tempat barbagi rasionalitas, sebagai tempat menyamakan langkah pergerakan, sebagai tempat berbagi kenikmatan akan suka dan dukanya kehidupan tetapi sungguh terdapat kekeliruan oleh kebanyakan manusia dalam proses pengambilan penilaian akan sosok keidealan manusia yang sejatinya “tulus”.
Bagi manusia yang mempunyai hati dan pikiran, menjadi dilematis ditengah padatnya manusia apatis ditangah padatnya manusia dehumanis ketika hati berlorong perasaan selalu membutuhkan ketulusan akan indahnya persahabatan berbalut ketulusan yang masih dalam pencarian.
Adalah sebuah pengamatan kehidupan bahwa sejatinya orang yang tulus bukanlah orang yang so’ sibuk, bukanlah orang yang berdedikasi, bukanlah orang yang mahir dalam pergerakan, bukanlah orang yang berintelektualitas, bukanlah orang yang terkenal, bukanlah orang yang selalu menjaga citra dan image diri, bukanlah orang yang menjadi kebanggaan, bukanlah orang yang terkagumi, bukanlah orang yang populer. Bukan! Bukan! Bukan! Bukanlah mereka sejatinya orang yang tulus. Meskipun telah banyak orang-orang yang ingin menggapai seperti mereka tetapi sekali lagi saya tegaskan bukanlah mereka sejatinya orang yang tulus.

Betapapun banyaknya yang bersikeras bahwa orang-orang seperti merekalah yang selalu menjadi rujukan fokus pencarian peneman kehidupan, dan dikala teman-teman tetap bersikeras tentang hal itu, disini saya akan menyodorkan tantangan bagi teman-teman, beranikah teman-teman menjadi penjamin bahwa ketulusan mereka terhadap orang-orang sekitar mereka adalah ketulusan yang murni, adalah ketulusan yang tetap, adalah ketulusan yang penuh, adalah ketulusan yang tidak akan hilang, ataukah ketulusan mereka hanya sesaat, tidak menetap, ketulusan mereka hanya citra dan image diri mereka atau bahkan ketulusan mereka hanya settingan belaka karena ketidakinginan menyinggung hati dan perasaan orang lain, beranikah teman-teman manjamin akan hal itu.
Perlu teman-teman ketahui bahwa kadang kala kesibukan merekalah yang memburam dan mengkaburkan ketulusan mereka terhadap orang-orang sekitar dan memang sudah rutinitas kesibukan mereka yang berlarut sehingga tidak sepenuhnyalah ketulusan yang mereka punya dicurahkan untuk orang-orang sekitar mereka. Mereka terlalu sibuk sehingga bukan perhatian dan fokus utama mereka untuk mengetahui keadaan orang-orang sekitar mereka khususnya keadaan seseorang yang menganggap mereka istimewa dan keadaan seseorang yang menaruhkan banyak harapan kepada mereka, sungguh mereka tidak bisa diharap memberikan ketulusan yang sepenuhnya kepada orang-orang yang senantiasa berharap akan keberadaan dirinya. Dan merekapun tidak bisa dan tidak boleh disalahkan atas tidak balancenya ketulusan yang ia berikan kepada orang-orang sekitar mereka karena mereka punya dunia sendiri sebagai ambisi yang lebih difokuskan dari pada hanya mengurusi terus menerus orang-orang sekitar mereka dan hal itu dalam benak mereka sah-sah saja.
Tulisan ini berusaha menunjukkan kepada teman-teman bahwa sebagian besar orang-orang menaruh harapan besar terhadap mereka, menaruh harapan besar untuk menjadi teman yang sekali lagi saya tegaskan sebagai tampat curahan hati, sebagai tempat menaruhkan kepercayaan, sebagai tempat barbagi rasionalitas, sebagai tempat menyamakan langkah pergerakan, sebagai tempat berbagi kenikmatan akan suka dan dukanya kehidupan, dan sebagian besar orang-orang beranggapan bahwa orang-orang seperti merekalah yang patut diharap, padahal tidak ada yang bisa menjamin akan hal itu, berarti bukanlah mereka sejatinya orang-orang yang tulus yang menjadi pencarian sebagian banyak orang.

Lantas seperti apakah orang-orang yang sejatinya tulus tersebut?
Dalam pengamatan terhadap pergerakan kehidupan manusia terdapat sosok seseorang yang luput dari perhatian sebagian banyak orang, mereka adalah “orang yang biasa-biasa” saja, meski ketulusan diberikan secara sungguh-sungguh dan kesetiaan untuk berbagi selalu tersediakan dari mereka yang mencakup berbagai hal, berbagai tempat dan berbagai waktu karena mereka mempunyai banyak kesempatan untuk menjadi teman sebagai curahan hati dan lain sebagainya tetapi oleh sebagian banyak orang mereka hampir dianggap tidak ada bahkan lebih parah mereka dipandang sebelah mata oleh orang-orang lainnya dan hanya sedikit orang yang menyadari akan eksistensi keberadaan mereka, orang yang dianggap tanpa keistimewaan, orang yang dianggap tidak bisa apa-apa, orang yang dianggap bagian manusia kelas bawah, orang yang terasingkan.
Sungguh mereka orang-orang yang terlupakan, terbaikan, terhiraukan, padahal sesungguhnya mereka dekat, jauh lebih dekat dibandingkan orang-orang termasyur lainnya, tetapi kadang kala kehadiran mereka menjadi tabu bagi sebagian banyak orang. Mereka sedih karena ketidakterangggapan dan ketidakhirauan selalu membalut penglihatan dan pandangan orang-orang kepada mereka, diskriminasi batin selalu menghiasi mereka dikala fokus pencarian sebagian banyak manusia akan sejatinya orang-orang tulus sedang berproses pada setiap diri seseorang yang disaat itu pula setiap orang memutilasi pandangan mereka terhadap orang-orang yang biasa-biasa saja.
Dalam kaitannya mengenai ketulusan, orang-orang yang biasa-biasa saja adalah orang  sangat dekat dengan sesorang apabila persahabatan telah melekat pada dirinya dan ketulusan yang dapat ia berikan adalah ketulusan yang penuh karena memang tidak ada faktor lain yang menjadi fokus perhatian orang-orang yang biasa-biasa tersebut, mereka dapat selalu menemani karena mereka memang tidak so’ sibuk, mereka akan tetap apa adanya tanpa dibalut oleh kepalsuan image diri, mereka akan ada pada setiap untaian curahan hati, mereka akan ada jika sewaktu-waktu dibutuhkan, mereka akan selalu jujur dalam memberi pendapat, mereka teman yang ada disaat kebutuhan atas keinginan akan perbincangan, merekalah orang-orang yang biasa-biasa saja tetapi oleh sebagian banyak orang berpikir bahwa mereka adalah orang – orang yang tanpa keistimewaan padahal merekalah “orang yang paling tulus”.

Jumat, 23 September 2011

Proses Prosedural VS Proses Subtansial


Banjarmasin, 24 September 2011


Aku termasuk seorang yang menghargai suatu proses, tetapi aku tidak setuju  jikalau suatu hal yang subtansial ditolak hanya karena proses prosedural bukan karena proses subtansial.  

Dimasa aku bersekolah di SMKN 1 Tanah Grogot Kab. Paser Kaltim tepatnya sekitar bulan Nopember 2011 (kalau tidak salah), aku mengikuti pengembangan diri PMR disekolahku. Suatu hari kami merencanakan mengadakan perkemahan gabungan dengan SMKN 2 Tanah Grogot walaupun rencananya hanya sebatas bicara ringan dengan teman-teman SMKN 2 Tanah Grogot tetapi hal ini telah menjadi kesepakatan antara kami bahwa perkemahan tersebut akan kami usahakan bersama dalam pelaksanaannya, seiring dengan berjalannya waktu, kamipun antar PMR yang berbeda sekolah memulai rapat perdana hingga sampailah pada rapat gladi bersih persiapan perkemahan gabungan tersebut, kamipun asik dengan persiapan lapangan yang kami siapkan tetapi sesungguhnya kami lupa bahwa hal yang paling penting dalam mengadakan kegiatan yakni administrasi, sama sekali belum kami siapkan, kata teman-teman sih maklum... namanya saja baru belajar. Kami tahu bahwa  secara lisan kami memang mendapat izin dari pembina PMR di sekolahku tetapi secara administratif kami katakan akan menyusul, rapat persiapan perkemahanpun telah fix dari kedua SMKN tersebut walaupun dengan waktu yang berminggu-minggu sih. Dalam persiapan praperkemahan tersebut tentu administrasi harus dipersiapkan dengan lengkap, iyah... kini seluruh administrasi pendukung kegiatan perkemahan telah kami persiapkan dengan lengkap, saatnya seluruh surat maupun proposal ditandatangani oleh pihak Osis, Pembina PMR, dan Kepala Sekolah. 

Kamipun menemui pihak Osis, dan pembina PMR hingga kami dapati mereka beserta tanda tangan mereka untuk kelengkapan administrasi, tetapi ada satu kolom tanda tangan yang kosong yakni tanda tangan Kepala Sekolah SMKN 1 Tanah Grogot. Bagaimana yah... kegiatan lima hari lagi akan dilaksanakan sedangkan administrasi belum ditandatangani secara menyeluruh, memang sih kesalahan ada pada kami karena tidak mempersiapkan administrasi tersebut dari jauh-jauh hari tetapikan mau bagaimana lagi hal ini telah terjadi dan semua persiapan telah matang sepenuhnya ibarat sebuah pintu yang telah terbuka dan butuh satu langkah lagi untuk memasuki pintu tersebut, kata Bagian Tata Usaha (TU) sih, “Kepala Sekolah lagi diluar daerah kemungkinan dalam tempo seminggu beliau baru kembali tetapi tanda tangan Kepala Sekolah bisa Qo diwakilkan kepada Waka Kurikulum”. Dengan penuh harapan kamipun segera menemui Waka Kurikulum, tetapi yah...  kami dapat siraman rohani dari beliau karena baru mengajukan tanda tangan menjelang hari pelaksanaan, selain siraman rohani yang kami dapatkan, kami mendapat kritikan dari beliau menyangkut penulisan radaksi yang sedikit harus dibenarkan, beliau mengatakan perbaiki dahulu besok kesini lagi. Pada keesokan hari kami kembali menemui Waka Kurikulum dengan administrasi yang telah direvisi, berharap kami mendapat tanda tangan beliau, tetapi kembali beliau memberikan siraman rohani bahwa kolom tanda tangan pada segala administrasi yang diperlukan perlu ditambah satu kolom lagi yakni kolom tanda tangan Ketua PMR itu sendiri, huh... Bapak, kenapa tidak dari kemarin sekalian diberi tahunya, ini kegiatan sisa empat hari lagi, iyah..., kalau nanti suratnya dikirim tidak sangkut terlebuh dahulu di bagian TU terkait, bagaiman kalau nanti sangkut, kan juga memakan waktu yang tidak sebentar untuk sampai langsung ditangan tujuan surat itu ditujukan, pada keesokan harinya lagi kami menemui Waka Kurikulum dengan kembali penuh harap bahwa beliau  akan menandatangani berbagai surat yang kembali telah kami siapkan dan kami berharap bahwa kali ini tidak terulur lagi seperti hari-hari sebelumnya karena waktu pelaksanaan semakin hari semakin mendekat. Tetapi yah.... kali ini telah habis kesabaranku, betapa tidak kembali beliau menolak surat kami beliau hanya mengatakan, “Setahu saya SMKN 1 Tanah Grogot memiliki kop surat yang baru sedangkan ini kop surat yang lama, coba ganti kop suratnya dengan yang baru”. Dengan sinispun aku menatap mata Waka Kurikulum kemudian aku langsung keluar dari ruangan beliau dan merobek-robek berbagai administrasi yang ada, teman disampingku juga menggrutu dengan wajah kepasrahan.

Disini aku berpikir bahwa suatu proses memang harus ditempuh demi menjaga kualitas hasil yang peroleh, tetapi tidak bisa begitu saja memaksakan suatu proses jikalau secara realita sendiri tidak mendukung untuk keidealan proses tersebut, terkadang kebanyakan dari orang-orang lebih memfokuskan proses prosedural ketimbang proses subtansial, padahal kita tahu suatu aturan tidaklah bisa menjadi fleksibel jikalau tidak bisa menyesuaikan dengan realita yang ada, keadaan dan situasi implementasi menegakkan suatu proses tidak hanya bisa dilihat dari kelengkapan administrasi saja tetapi sesungguhnya yang lebih mendasar daripada itu yakni kesiapan aturan suatu proses terhadap realita dilapangan, lagi pula suatu aturan proses dibuat bertujuan untuk memudahkan dalam pelaksanaannya bukan untuk menyusahkan pelaksanaan itu sendiri.

Saya setuju bahwa sebuah lembaga yang baik ditunjukkan juga oleh administrasinya yang baik pula, namun pemahaman tersebut cenderung memunculkan sikap formalitas semata, tanpa memandang sisi yang paling mendasar yakni hal-hal subtansial yang mesti difokuskan sebelum menuju keranah administrasi yang juga cenderung hanya bersifat prosedural.

Memang benar saat ini kita harus menghargai suatu proses tetapi tetap diperhatikan kesiapan realita yang ada dalam menegakkan proses tersebut, yakni penegakan proses subtansial utamanya, dan penegakan proses prosedural pendukungnya.
By. Zhufi

Orang yang paling tulus


Aku baru sadar...
Ternyata orang yang paling tulus itu
Adalah orang yang bisa-biasa saja
Bukan orang yang populer
Bukan orang yang banyak kesibukan
Bukan orang yang bicaranya tinggi-tinggi
Bukan orang yang mempunyai banyak keahlian
Tetapi orang biasa-biasa saja
Karena mereka ada, disetiap kita membutuhkan
Karena mereka mau, disetiap kita ajak
Mereka mendengar disetiap kita bicara
Sedangkan orang-orang selain mereka
Benar sih..., nasihat mereka ampuh
Benar sih..., kata-kata mereka bijak
Tetapi mereka tidak bisa sepenuhnya mendengarkan
Tetapi mereka tidak bisa sepenuhnya menemani
Mereka selalu sibuk dengan urusan mereka
Dan hanya sedikit perhatian yang kita dapatkan dari mereka
Dan aku berpikir...
Hanya Sedikit..., orang-orang yang mencari teman/ sahabat yang biasa-biasa saja
Karena mereka berpikir bahwa orang yang seperti itu
Adalah orang yang tanpa keistimewaan
Padahal...
Merekalah orang yang paling tulus
By. Zhufi

Rabu, 21 September 2011

Dimana ada masalah, maka disitu ada potensi perubahan...


Banjarmasin, 19 September 2011

Pada awal September 2011, ini adalah awal aku masuk kuliah di IAIN Antasari Banjarmasin Fakultas Syariah Jurusan Ekonomi Islam dan akupun tahu bahwa sekarang adalah saatnya era perkuliahan telah dimulai dalam hidupku, tetapi sebelum perkuliahan dimulai tentulah para mahasiswa baru  termasuk aku harus menjalani yang namanya OSPEK, waw... apa itu yah Ospek, kata teman-teman sih Ospek itu sejenis MOS kalau di SLTP atau SLTA dulu, huh... seram sih dengarnya apalagi kalau dikhayal mengenang MOS di SMKN 1 Tanah Grogot dulu, ampun deh... ga mau lagi..., Nah... sekarang harus berhadapan dengan OSPEK, idih... ga mau ah...., tetapi untungnya kata mahasiswa-mahasiswa lain yang namanya OSPEk itu sudah dihapuskan tetapi digantikan dengan nama OPAK (Oreantasi pengenalan akademik), oya... nih baru ingat kalau OPAK tuh sudah aku ikuti kemarin sebelum bulan Ramadhan atau di akhir bulan juni 2011, tapi katanya belum selesai sampai disitu masih ada oreantasi pengenalan di Fakultas yakni pada tanggal 08 – 11 September 2011, nah nama kegiatannya Tali Silaturrahmi Fakultas (TIFS) Syariah, yang kata teman-teman sih wajib untuk diikuti, yah...aku ikuti deh tuh TIFS Syariah, tetapi setelah di ikuti, ya.. ampun macam-macam tuh suruhannya, dikirain nih kegiatan silaturrahmi yang menunjukan bahwa kegiatan ini bersifat baik, tanpa ada unsur paksaan, yang penuh pada keramah tamahan dan kesantunan, tetapi fakta yang terjadi pada penyelenggaraannya sendiri sangat jauh berbeda dengan semua itu, nah... disini aku sadar ternyata ini tidak jauh berbeda dengan OSPEK Fakultas, tapi toh katanya sudah dihapuskan qoq masih ada sih fakta-fakta bahwa kegiatan ini menunjukkan Ospek Fakultas.
Setelah kegiatan TIFS Syariah usai, aku buat tulisan tiga lembar kertas HVS A4 yang mengkritik pedas panitia OC (Organizing Comitte) dan SC (Steering Comitte) yang aku kirim pada hari selasa sore tanggal 13 September 2011 ke sekretariat BEM Fasya (Fakultas Syariah), ke Ketua SC dan tanggal 14 September 2011 aku tempel di mading Fakultas Syariah, dan 22 September 2011 aku kirim kepada dekan Fakultas Syariah, waw... ternyata reaksi mayoritas perubahan teman-teman mahasiswa baru setelah membaca tulisan itu menjadi semakin berani dan semakin bersemangat menentang perubahan agar kegiatan yang berbau Ospek tersebut tidak lagi diulangi ditahun-tahun yang akan datang dan teman-teman juga bersedia melindungi aku jikalau aku berhadapan dengan panitia SC dan OC.  It’s great..., aku sendiripun kaget melihat perubahan teman-teman seperti ini, tidak menyangka moment seperti ini telah mengangkat harga diri mayoritas teman-teman mahasiswa baru, dan menunjukan jiwa kepemimpinan disetiap individu. Memang disini tedapat masalah, tetapi aku sadar karena masalah ini pula terdapat potensi perubahan menuju lebih baik dimasa-masa mendatang, dan disini juga memang dipandang perlu sebuah pemicu yang memulai perubahan tersebut.
pada hari senin, 19 September 2011 pukul 14.00 WITA di Asrama IAIN Antasari Banjarmasin aku teringat semua yang terjadi pada saat TIFS Syariah, disini aku memikirkan dan mengambil suatu kesimpulan bahwa dimana ada masalah maka disitu ada potensi perubahan.
 juga aku teringat ketika rapat persiapan demonstrasi di Kabupaten Paser bersama teman-teman KPMKP, HMI, IMM, PMII, Forum Lingkar study kerakyatan, yang pada saat itu aku mewakili PII. Disini aku berpikir bahwa teman-teman yang pada saat itu ingin menyampaikan aspirasi mereka melalui demontrasi yang bertujuan untuk menuntut suatu perubahan, pada dasarnya bergerak melakukan perubahan karena ada dorongan masalah yang hendak diselesaikan.
Selain itu, aku juga teringat acil yang aku bekerja kepada beliau pada bulan Ramadhan lalu (08/2011) yakni membantu usaha beliau menjaga toko baju di Kandilo Plaza Kec. Tanah Grogot Kab. Paser Kaltim, pada saat itu aku menanyakan kepada beliau tentang kemajuan usaha beliau dan beliaupun menjawab bahwa usaha beliau telah mengalami berbagai masa hingga hampir mengalami kebangkrutan yang pada saat itu belau memiliki hutang sekitar sekitar Rp. 75.000.000,- (Seingat aku sih) karena pusat toko beliau mengalami kebakaran, melihat hutang sebanyak itu tidak membuat beliu strees dan tertekan tetapi beliau semakin termotivasi untuk melakukan hal-hal nekat yang juga kreatif demi menutup semua hutang tersebut, dan pada akhirnya kini semua hutang beliau telah lunas, beliau juga memiliki lahan tanah berhektar-hektar, dan kini beliau berencana membangun rumah di tengah perkotaan, jika anda sedang mencari kesempatan besar maka carilah tantangan besar pula. Disini aku kembali merenungkan akan hikmah dari suatu masalah, memang sih terkadang masalah itu menyusahkan tetapi jika kita dapat menyikapinya dengan baik maka masalah tersebut akan tergantikan dengan kesempatan yang setimpal dari masalah yang kita sikapi tersebut, dan hal itu dapat menimbulkan potensi perubahan pada hidup kita.
Aku punya sebuah pemikiran bahwa semakin tinggi derajat seseorang maka semakin tinggi pula tingkat masalah yang ia dihadapi, dan orang yang memiliki derajat yang tinggi tentu sebelumnya ia telah banyak mendapati berbagai masalah hingga semua masalah tersebut merubah hidupnya menjadi lebih bijak dalam menanggapi segala persoalan. Dan jika kita hendak memiliki darajat yang tinggi pula maka janganlah takut dengan masalah, karena tidaklah seseorang itu menjadi sukses jikalau dia hanya memiliki sedikit masalah, dan wajarlah jikalau orang sukses itu punya banyak masalah yang ia hadapi dan sangat tidak wajar jikalau orang yang sukses besar tetapi ia tidak pernah menghadapi masalah sama sekali.
Jadi buat semua sahabat-sahabatQu (pembaca)...
Janganlah sedih menyikapi suatu masalah, ingatlah... dimana ada masalah maka disitu ada potensi perubahan, dan ingatlah bahwa seseorang itu menjadi sukses karena sebelumnya memiliki banyak masalah yang ia hadapi, jadi jikalau sahabat sekalian memiliki masalah yang amat sangat banyak, artinya sahabat termasuk orang-orang yang akan menjadi sukses..., dan tetap ingat yah sahabt-sahabat bahwa dimana ada masalah, maka disitu ada potensi perubahan...

By. Zhufi


Sabtu, 17 September 2011

Hadapilah Masalah...

Wahai sahabatQ
janganlah takut
dengan sebuah masalah
hadapilah masalah
walau terasa sakit
walau terasa sedih
walau sangat perih
janganlah lari darinya
karena masalah
adalah suatu proses
menuju pendewasaan diri
yakinlah...
apa yang telah berlalu
adalah takdir yang terbaik
yang diberikan oleh ALLAH SWT
kepada kita
dan berperasangka baiklah
kepada ALLAH SWT
bahwa masa depan
adalah yang terbaik
yang diberikan
ALLAH SWT kepada kita

sukses sahabatQu
seperti apapun keadaan hati
tetaplah mesti semangat
dan selalu tersenyum...

by. Zhufi Assamarqand (ka'sa)

Paradigma menjadi PNS


10.05 am
Jum’at, 15 Juli 2011









Paradigma Menjadi PNS
A             : Fi, nanti kamu ke samarinda lagi kah
B             : Emm..., saya baru daftar di banjarmasin, Bukan di Samarinda
A             : Nanti Kamu ke Banjarmasin Lagi kah?
B             : Doakan za dulu yah, moga lulus tes
A             : Jurusan pa...
B             : Ekonomi Syariah
A             : Untuk apa tuc..
B             : Emm..., yah gituc dec, hehe
A             : Orang kalau mau cari jurusan, yang mudah lulusnya masuk PNS
B             : Ga mau masuk PNS
A             : Napa ?
B             : Gpp... hehe

                Sudah menjadi paradigma mendarah daging masyarakat bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan terbaik. Padahal apabila setiap orang menginginkan menjadi PNS maka solusi atas pengangguran di Indonesia tidak akan terpecahkan. Tetapi jikalau setiap orang bermimpi menjadi pengusaha seperti yang di sunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW maka lowongan pekerjaan akan terbuka lebar...

By. Zhufi

Pertanyaan penentu jati diri hingga waktu yang akan datang



Aku punya  empat pertanyaan nic, yang aku dapat atas hasil dari sebuah perenungan dan aku dapatnya tidak sekaligus semuanya loc, tetapi satu demi satu, jadi aku aQ mohon serius yc jawabnya yc... (n_n).
  1. Ilmu untuk harta / harta untuk ilmu ?
  2. Mengambil keputusan sesuai idealitas / seseuai realitas ?
  3. Bertindak sesuai kata hati / akal pikiran ?
  4. Membuat aturan / Mengikuti aturan ?
By. Zhufi